Sunday, November 15, 2009

BERPIKIR KRITIS DALAM PEMBELAJARAN SAINS

Berikut ini diuraikan beragam definisi berpikir kritis, akan tetapi masing-masing komponen berpikir kritis dari akhli-akhli berbeda mengandung banyak kesamaan. Definisi-definisi inilah yang dijadikan landasan dalam penelitian ini.

Steven (1991) memberikan pengertian berpikir kritis yaitu berpikir dengan benar dalam memperoleh pengetahuan yang relevan dan reliable. Berpikir kritis adalah berpikir nalar, reflektif, bertanggung jawab, dan mahir berpikir. Dari pengertian Steven, seseorang yang berpikir dengan kritis dapat menentukan informasi yang relevan. Berpikir kritis merupakan dalam memproses informasi yang akurat sedemikian sehingga dapat dipercaya, logis, dan kesimpulannya terpercaya, dapat membuat keputusan yang bertanggung jawab. Seseorang yang berpikir kritis dapat bernalar logis dan membuat kesimpulan yang tepat.

Proses berpikir kritis dapat digambarkan seperti metode ilmiah. Steven (1991) mengutarakan bahwa berpikir kritis adalah metode tentang penyelidikan ilmiah, yaitu: mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, mencari dan mengumpulkan data-data yang relevan, menguji hipotesis secara logis dan evaluasi serta membuat kesimpulan yang reliable.

Krulik dan Rudnick (1993) mendefinisikan berpikir kritis adalah berpikir yang menguji, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek dari situasi masalah. Termasuk didalam berpikir kritis adalah mengelompokan, mengorganisasikan, mengingat dan menganalisis informasi. Berpikir kritis memuat kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang diperlukan dengan yang tidak ada hubungan. Hal ini juga berarti dapat menggambarkan kesimpulan dengan sempurna dari data yang diberikan, dapat menentukan ketidakkonsistenan dan kontradiksi di dalam kelompok data. Berpikir kritis adalah analitis dan reflektif.

Berdasarkan pengertian berpikir kritis menurut Krulik dan Rudnick, yaitu berpikir kritis adalah berpikir analitis mengandung pengertian bahwa berpikir kritis berlangsung selangkah demik selangkah. Tiap langkah ini tegas dan dapat dijelaskan kepada orang lain. Berpikir dilakukan dengan penuh kesadaran akan informasi yang terlibat. Termasuk dalam berpikir analitis adalah proses berpikir untuk mengklasifikasi, membandingkan, menarik kesimpulan dan mebgevaluasi.

Berpikir reflektif mempunyai karakteristik menangguhkan keyakinan dan melihat kembali ketercukupan dari premis-premis yang logis. Seseorang yang berpikir reflektif mempertimbangkan segala alternatif sebelum mengambil keputusan. Oleh karena itu, orang yang berpikir reflektif tidak menerima sembarang pendapat, namun tidak berarti selalu menganggap salah terhadap semua pernyataan orang lain. Berpikir reflektif bertujuan pada apakah meyakini atau melakukan sesuatu.

Penelitian pendidikan telah mengidentifikasi beberapa keterampilan yang berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis yaitu menemukan analogi dan hubungan lainnya antar informasi, menemukan relevansi dan validitas informasi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah, dan menentukan dan mengevaluasi solusi atau cara-cara alternatif penyelesaian (Pott, 1994).

Menurut Ennis (1996) berpikir kritis adalah suatu proses berpikir yang bertujuan untuk membuat keputusan yang rasional yang diarahkan untuk memutuskan apakah meyakini atau melakukan sesuatu. Dari definisi Ennis tersebut dapat diungkapkan beberapa hal penting. Berpikir kritis difokuskan kedalam pengertian sesuatu yang penuh kesadaran dan mengarah pada sebuah tujuan. Tujuan dari berpikir kritis akhirnya memungkinkan kita untuk membuat keputusan.

Berpikir kritis berfokus pada apakah meyakini atau melakukan sesuatu mengandung pengertian bahwa mahasiswa yang berpikir kritis tidak hanya percaya begitu saja apa yang dijelaskan oleh dosen. Mahasiswa berusaha mempertimbangkan penalarannya dan mencari informasi lain untuk memperoleh kebenaran.

Pengertian tentang berpikir penting bagi kita karena dapat membedakan berpikir kritis dengan bentuk berpikir yang lain (berpikir tidak kritis). Lipman (Ornstein dan Hunkins, 1998) membedakan berpikir biasa dan berpikir kritis. Berpikir biasa adalah sederhana dan kurang standar, berpikir kritis lebih kompleks dan didasarkan pada standar keobyektifan, mkegunaan, dan konsistensi. Dosen diharapkan membantu mahasiswa mengubah (1) dari menerka ke menaksir; (2) dari memilih ke mengevaluasi; (3) dari mengelompokan ke mengklasifikasikan; (4) dari percaya ke mengasumsikan; (5) dari menyimpulkan ke menyimpulkan secara logis; (6) dari memberikan pendapat tanpa alasan ke memberikan pendapat dengan alasan; (7) dari membuat keputusan tanpa kriteria ke membuat keputusan dengan kriteria.

Ennis (Ornstein dan Hunkins, 1998: 119) memberikan kerangka kerja untuk pengajaran berpikir kritis. Dia membagi berpikir kritis dalam empat komponen, masing-masing terdiri dari beberapa keterampilan khusus yang dapat diajarkan ke mahasiswa, yakni:

1. Mendefinisikan dan mengklarifikasi:

a. Mengidentifikasi kesimpulan

b. Mengidentifikasi alasan yang dikemukakan

c. Mengidentifikasi alasan yang tidak dikemukakan

d. Melihat persamaan dan perbedaan

e. Mengidentifikasi dan menangani ketidakrelevanan

f. Meringkas

2. Menanyakan dengan pertanyaan yang tepat untuk memperjelas atau menghadapi tantangan:

a. Mengapa ?

b. Apa intinya?

c. Apa artinya?

d. Apa contohn ya?

e. Apa yang bukan contohnya?

f. Bagaimana aplikasinya?

g. Perbedaan apa yang dia buat?

h. Aap faktanya?

i. Apakah ini yang dikatakan?

j. Apa yang lebih detailnya?

3. Menilai kredibilitas (kepercayaan) suatu sumber:

a. Keahlian

b. Kurangnya konflik yang menarik

c. Persesuaian antar sumber

d. Reputasi

e. Penggunaan prosedur yang tepat

f. Resiko yang diketahui untuk reputasi

g. Kemampuan memberikan alasan

h. Kebiasaan saksama (careful habits)

4. Memecahkan masalah dan menggambarkan kesimpulan:

a. Menyimpulkan dan menilai validitas

b. Mempengaruhi dan menilai kesimpulan

c. Meramalkan konsekuensi yang mungkin

Chanche (Huitt, 1998) seorang kahli psikologi kognitif mendefinisikan berpikir kritis sebagai kemampuan untuk menganalisis fakta, membangkitkan dan mengatur ide, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan, menarik kesimpulan, mengevaluasi argument dan memecahkan masalah. Menurut Sukmadinata (2004) berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik keputusan, memberikan keyakinan, menganalisis asumsi, dan pencarian ilmiah.

Berpikir kritis dari Chanche dan Sukmadinata mempunyai kesamaan yaitu proses mental untuk menganalisis, mengevaluasi, dan memecahkan masalah. Melalui proses berpikir dengan kritis seseorang dapat memperoleh informasi dengan benar, mengevaluasinya dan memproses informasi tersebut sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang terpercaya.

Swart dan Perkin (Hassoubah, 2004) menyatakan bahwa berpikir kritis berarti:

1) Bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis

2) Memakai standar penilain sebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat kesimpulan

3) Menarapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menemukan dan menerapkan standar tersebut

4) Mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian.

Dengan demikian, berpikir kritis sebagian besar terdiri dari mengevaluasi argument atau informasi dan membuat keputusan yang dapat membantu mengembangkan kepercayaan dan mengambil tindakan serta membuktikan.

Berpikir kritis matematis adalah berpikir kritis pada bidang ilmu matematika. Dengan demikian, berpikir matematis adalah proses berpikir kritis yang melibatkan pengetahuan matematika, penalaran matematika dan pembuktian matematika. Berpikir kritis dalam matematika merupakan kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah matematika. Berdasar pada definisi-definisi berpikir kritis yang dikemukakan para akhli, dalam penelitian ini dikembangkan indicator berpikir kritis matematis, yang diklassifikasikan atas lima komponen berpikir kritis, yaitu

1. Analisis, meliputi:

(1) Memisahkan informasi ke bagian-bagiannya

(2) Mencari hubungan antar informasi

(3) Mengorganisasikan informasi

2. Evaluasi, meliputi:

(1) Membuat criteria

(2) Menentukan kerasionalan suatu jawaban

(3) Menilai suatu argumen

3. Pembuktian, meliputi:

(1) Memberikan alasan yang logis

(2) Menyediakan bukti pendukung

(3) Menentukan konsep yang termuat dalam membuktikan

4. Pemecahan Masalah, meliputi:

(1) Membuat strategi pemecahan masalah

(2) Menjalankan strategi pemecahan masalah

(3) Mengevaluasi kebenaran hasil pemecahannya

5. Menemukan Analogi, meliputi:

(1) Melihat keserupaan,

(2) membuat kesimpulan atas dasar keserupaan

1. Proses Berpikir Kritis

Penelitian tentang proses pemecahan masalah sebagai komponen berpikir kritis yang dilakukan dengan cara memberikan masalah secara individual dan meminta setiap individu menjelaskan proses pemecahannya secara lisan (talk-aloud), memberikan gambaran secara umum bahwa tahapan dimulai dengan analisa masalah, kemudian dibangun informasi yang diperoleh dari pengalamannya dan dihubungkan dengan masalah yang telah diidentifikasi. Selanjutnya dibuat hipotesa dan pemecahannya berdasarkan atas pola yang diperoleh dari pengalamannya. Proses pemecahan masalah yang telah diuraikan tersebut sesuai dengan analogi proses tentang bagaimana nalar membangun pengetahuan.

Menurut Piaget (1976; dalam Dahar, 1996), siswa tidak menerima pengetahuan secara pasif, tetapi membangun pengetahuan itu melalui aktivitas tertentu. Pengetahuan baru diperoleh karena ada perubahan struktur mental melalui proses asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi terjadi bila seseorang menggunakan struktur mental yang ada untuk merespon lingkungannya, memproses struktur mentalnya untuk menghadapi suatu masalah. Jika pada proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi antara lingkungan dan struktur mental yang ada, terjadi keadaan yang tidak seimbang (disequilibrium). Sebagai akibatnya akan terjadi proses akomodasi, perubahan struktur mental yang ada dan terbentuk struktur baru. Pada proses akomodasi terjadi interaksi epigenetik antara prinsip-prinsip yang dimiliki dan pengalamannya. Dari interaksi ini dihasilkan pengorganisasian dan pengubahan struktur yang keberhasilannya dipengaruhi oleh lingkungan.

Berdasarkan pemahaman bagaimana pengetahuan itu dibentuk, maka dosen memberikan perkuliahan berpikir kritis pada mahasiswa sebenarnya adalah menciptakan kondisi disequilibrium sedemikian sehingga mahasiswa dapat mengubah struktur berpikirnya. Untuk kepentingan ini, mahasiswa perlu dihadapkan pada masalah yang menantang dan tersedianya struktur yang memadai untuk mendukung pembentukan struktur baru. Akibat dari pembentukan struktur yang dilakukan secara individual, maka untuk menggunakan informasi yang sudah ada, guru tidak perlu memaksakan makna informasi yang diberikan. Secara individu mahasiswa memberi makna pada informasi yang ada, menginterpretasikan informasi berdasarkan informasi sebelumnya yang akan mempengaruhi informasi yang berasal dari input dan pengalaman untuk mendapatkan alternatif pemecahan berdasarkan peluang yang ada. Setelah dipilih alternatif, dibuat hipotesa dan pembuktiannya untuk mendapatkan hasil.

0 comments:

Post a Comment

 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by RUSSAMSI MARTOMIDJOJO CENTRE | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks